Test Blog
Konten ID
Lefi Andri
Author
Konten ID
Lefi Andri
Author

Skala Likert itu salah satu format pertanyaan survei yang paling sering dipakai—tapi juga yang paling sering “salah pakai”. Ada yang bikin skalanya tidak seimbang, labelnya ambigu, atau malah mencampur beberapa jenis skala dalam satu halaman. Akibatnya, responden bingung, jawaban jadi asal pilih, dan data sulit dianalisis.
Di artikel ini, kita bahas cara bikin skala Likert yang benar—mulai dari memilih jumlah poin, menulis label, sampai contoh template yang tinggal kamu copas.
Secara sederhana, skala Likert adalah skala untuk mengukur tingkat persetujuan/ketidaksetujuan (atau penilaian sejenis) terhadap sebuah pernyataan—misalnya “Saya puas dengan layanan…” lalu responden memilih dari “Sangat tidak setuju” sampai “Sangat setuju”.
Catatan penting: yang sering disebut “Likert” di lapangan kadang sebenarnya rating scale umum (mis. 1–10). Tidak salah, tapi sebutan dan desainnya berbeda. Kalau kamu mau aman, pakai desain Likert yang rapi dan konsisten.
Gunakan skala Likert ketika kamu ingin mengukur:
Sikap/opini (setuju–tidak setuju)
Persepsi kualitas (baik–buruk)
Kepuasan (sangat puas–sangat tidak puas)
Frekuensi (tidak pernah–selalu)
Tingkat kemudahan (sangat sulit–sangat mudah)
Kalau pertanyaanmu butuh jawaban fakta (mis. “Berapa kali…?”) atau pilihan spesifik (“Pilih fitur favorit”), Likert bukan pilihan utama.
Sebelum menentukan jumlah poin, pastikan kamu jelas dulu:
yang kamu ukur itu sikap, kepuasan, frekuensi, atau kualitas?
Contoh:
Mengukur kepuasan → gunakan “Sangat tidak puas” s/d “Sangat puas”
Mengukur persetujuan → gunakan “Sangat tidak setuju” s/d “Sangat setuju”
Mengukur frekuensi → gunakan “Tidak pernah” s/d “Selalu”
Jangan campur aduk “setuju” untuk hal yang sebenarnya “frekuensi”. Itu bikin interpretasi data jadi rancu.
Skala Likert biasanya berbentuk pernyataan, bukan pertanyaan panjang.
Kurang rapi:
“Seberapa setuju Anda bahwa aplikasi kami bagus, cepat, dan mudah digunakan?”
Itu 3 hal dalam 1 kalimat (kualitas, kecepatan, kemudahan). Pisahkan.
Lebih rapi (jadi 3 item):
“Aplikasi ini mudah digunakan.”
“Aplikasi ini berjalan cepat.”
“Tampilan aplikasi ini enak dilihat.”
Prinsip umum penulisan pertanyaan survei: hindari kalimat ambigu, bias, dan “double-barreled” agar jawaban benar-benar mengukur hal yang dimaksud.
Yang paling sering dipakai:
5 poin: simpel, cepat diisi, cocok untuk survei umum
7 poin: lebih sensitif (lebih detail), cocok kalau respondennya nyaman mengisi survei
Yang penting: konsisten. Jangan sebagian pertanyaan 5 poin, sebagian 7 poin, kecuali ada alasan metodologis yang jelas.
Banyak panduan praktis menyarankan memilih jumlah poin yang seimbang antara detail dan “capek isi”.
Midpoint (opsi tengah) contohnya: Netral / Biasa saja / Tidak yakin.
Kapan midpoint berguna:
Saat “netral” memang jawaban yang masuk akal (mis. opini terhadap kebijakan tertentu)
Saat responden mungkin benar-benar tidak punya preferensi
Kapan midpoint justru mengganggu:
Saat kamu butuh keputusan tegas (mis. evaluasi kepuasan layanan) dan “netral” jadi tempat “asal aman”
Literatur desain survei membahas bahwa midpoint bisa dipakai untuk menampung responden yang benar-benar tidak punya opini—atau justru jadi “jalan keluar” bagi responden yang malas berpikir, jadi gunakan dengan sadar.
Tips praktis yang sering aman:
Tetap pakai midpoint (5 poin) dan sediakan opsi terpisah “Tidak tahu / Tidak relevan” bila diperlukan (ini beda dengan “Netral”).
Skala seimbang artinya:
Jumlah opsi positif = jumlah opsi negatif
Intensitasnya simetris
Contoh 5 poin yang seimbang:
Sangat tidak setuju
Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Contoh yang tidak seimbang (hindari):
Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Setuju banget
Ini tidak simetris dan bisa mendorong bias.
Kesalahan umum: bikin skala 1–5 tanpa arti, lalu berharap responden paham sendiri.
Lebih aman:
Beri label kata yang jelas (“Sangat tidak setuju” dst.)
Kalau pakai angka, angka hanya pendamping, bukan satu-satunya penanda
Panduan desain pertanyaan menekankan bahwa angka saja sering ambigu, sehingga memberi label verbal membantu responden memahami maksud skala.
Ini pertanyaan klasik. Ada yang hanya melabeli ujung kiri-kanan, ada yang melabeli semua poin.
Praktik yang sering paling aman (terutama untuk audiens umum):
Label semua poin supaya interpretasi responden lebih konsisten
Ada pembahasan khusus soal dampak pelabelan semua poin vs hanya endpoint, dan ini memang keputusan desain yang penting.
Kalau kamu targetnya beragam (multi-usia, multi-latar), melabeli semua poin biasanya mengurangi salah tafsir.
Misalnya:
Kiri = negatif, kanan = positif (atau sebaliknya), tapi jangan bolak-balik.
Kalau satu halaman “Sangat setuju” di kiri, lalu halaman berikutnya “Sangat setuju” di kanan, responden gampang kepleset.
Hindari kalimat seperti:
“Aplikasi ini selalu membantu saya…”
“Layanan kami sangat cepat…”
Lebih netral:
“Aplikasi ini membantu saya menyelesaikan tugas lebih cepat.”
“Kecepatan layanan sesuai kebutuhan saya.”
Panduan penulisan pertanyaan survei menekankan pentingnya wording yang netral agar tidak membentuk jawaban responden.
Sebelum survei dibagikan ke ratusan orang, uji ke 5–10 orang dulu:
Apakah ada label yang membingungkan?
Apakah ada pernyataan yang ditafsir beda?
Berapa menit rata-rata mengisi?
Best practice desain survei umumnya menyarankan uji coba agar instrumen lebih valid dan mudah dipahami.
Pernyataan: “Saya merasa fitur X mudah digunakan.”
Opsi:
Sangat tidak setuju
Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Sangat tidak setuju
Tidak setuju
Agak tidak setuju
Netral
Agak setuju
Setuju
Sangat setuju
Sangat tidak puas
Tidak puas
Biasa saja
Puas
Sangat puas
Tidak pernah
Jarang
Kadang-kadang
Sering
Selalu
Tips: jangan campur “Setuju” dengan “Sering” dalam satu dimensi. Itu beda konsep.
Buruk:
“Seberapa setuju Anda bahwa aplikasi kami sangat cepat dan sangat membantu?”
Masalahnya: menggiring (“sangat”), 2 konsep dalam satu item (cepat + membantu).
Bagus:
“Aplikasi ini berjalan cepat saat saya gunakan.”
“Aplikasi ini membantu saya menyelesaikan pekerjaan saya.”
Lalu pakai Likert 5 poin yang konsisten.
Skala tidak seimbang (opsi positif lebih banyak)
Label tidak jelas (cuma angka)
Arah skala bolak-balik
Pernyataan terlalu panjang / mengandung 2 ide
Midpoint dipakai tanpa sadar (padahal butuh “Tidak relevan”)
Campur 5 poin dan 7 poin tanpa alasan
Untuk laporan cepat, kamu bisa:
Hitung persentase Top-2 box (mis. “Setuju + Sangat setuju”)
Lihat distribusi jawaban per item
Bandingkan per segmen (pengguna baru vs lama)
Soal teknis statistik, item Likert umumnya dipandang ordinal, dan cara memperlakukannya saat analisis perlu konsisten dengan tujuan pelaporan. Pembahasan tentang sifat data Likert (ordinal vs interval) juga sering muncul di materi desain survei.
1) Skala Likert terbaik 5 atau 7?
Umumnya 5 poin cocok untuk survei umum (lebih cepat), 7 poin cocok untuk riset yang butuh sensitivitas lebih tinggi, tapi tetap jaga responden tidak kelelahan.
2) Perlu “Netral” atau tidak?
Kalau “netral” masuk akal sebagai sikap, pakai. Kalau kamu butuh keputusan tegas, pertimbangkan skala genap atau tambah opsi “Tidak relevan”.
3) Lebih baik label semua poin atau cukup ujung?
Untuk audiens umum, melabeli semua poin sering lebih aman agar interpretasi konsisten.
Membuat skala Likert yang benar itu bukan soal “keren-kerenan metodologi”, tapi soal mengurangi salah tafsir supaya datamu benar-benar bisa dipakai. Kalau kamu sering bikin survei untuk riset, evaluasi layanan, atau kebutuhan kerja/komunitas, prosesnya akan jauh lebih nyaman kalau kamu pakai alat yang memang dirancang untuk itu.
Kalau kamu mau bikin survei lebih cepat, rapi, dan konsisten—mulai dari template skala Likert sampai pengumpulan hasil—kamu bisa berlangganan aplikasi Surveiku. Dengan Surveiku, kamu tinggal fokus menyusun pertanyaan yang tepat dan membaca insight-nya, tanpa pusing urusan teknis.
Lefi Andri
Author

Survei itu terlihat sederhana: buat beberapa pertanyaan, sebar link, lalu tunggu jawaban masuk. Masalahnya, banyak survei berakhir “ramai yang isi” tapi hasilnya tidak bisa dipakai untuk ambil keputusan—karena pertanyaannya bias, terlalu panjang, atau tidak nyambung dengan tujuan.
Kalau kamu ingin survei yang benar-benar membantu (buat riset pasar, evaluasi layanan, polling komunitas, atau kebutuhan akademik), kuncinya ada di desain: tujuan yang jelas, pertanyaan yang tepat, dan pengalaman responden yang nyaman. Bahkan lembaga riset besar menekankan bahwa kualitas data survei sangat bergantung pada kualitas pertanyaannya.
Di artikel ini, kita bahas langkah-langkahnya secara praktis—bisa kamu terapkan langsung.
Sebelum menulis pertanyaan pertama, jawab ini dulu:
Keputusan apa yang akan kamu ambil dari hasil survei?
Informasi apa yang wajib ada agar keputusan itu lebih yakin?
Siapa yang paling tepat mengisi survei ini?
Platform survei dan panduan metodologi sama-sama menekankan: tujuan yang jelas bikin survei tetap fokus dan tidak melebar.
Contoh tujuan yang “tajam”:
“Mengukur kepuasan pelanggan setelah pembelian dan menemukan 3 perbaikan terbesar di proses pengiriman.”
“Mengetahui fitur apa yang paling diinginkan pengguna untuk versi aplikasi berikutnya.”
Contoh tujuan yang terlalu umum:
“Mau tahu pendapat orang tentang produk kami.”
Kalau tujuan sudah jelas, kamu jadi gampang memilah: pertanyaan mana yang penting, mana yang hanya “penasaran”.
Survei yang bagus bukan hanya soal pertanyaan. Siapa yang menjawab juga menentukan kualitas insight.
Kalau kamu butuh masukan pelanggan aktif, pastikan link survei memang sampai ke pelanggan aktif (bukan acak).
Kalau kamu ingin gambaran pasar umum, sebaran responden harus cukup beragam (usia, lokasi, kebiasaan, dll).
Kalau sampel tidak sesuai target, hasilnya bisa bias. Prinsip desain survei modern banyak menekankan pentingnya menyesuaikan pendekatan dengan pengalaman responden dan konteksnya.
Tip praktis: tulis kriteria responden di awal (screening), misalnya:
“Apakah Anda pernah membeli produk X dalam 3 bulan terakhir?” (Ya/Tidak)
Kalau “Tidak”, bisa langsung akhiri survei atau arahkan ke survei lain.
Urutan pertanyaan memengaruhi jawaban. Pertanyaan awal yang “menggiring” bisa membuat responden menjawab pertanyaan berikutnya dengan bias. Panduan desain kuesioner menekankan bahwa pertanyaan yang muncul lebih dulu dapat memengaruhi respons selanjutnya.
Struktur yang sering paling aman:
Pembuka ringan: konteks + pertanyaan mudah (mis. pengalaman umum)
Bagian inti: evaluasi, penilaian, alasan
Pendalaman: pertanyaan terbuka seperlunya
Profil/demografi: usia, lokasi, peran, dll (taruh di akhir agar tidak “mengintimidasi” di awal)
Ini bagian paling krusial. Banyak survei gagal bukan karena responden malas, tapi karena pertanyaannya bikin ragu.
Hindari istilah internal, singkatan tim, atau kata yang bisa ditafsir beda.
Kurang jelas: “Seberapa puas Anda dengan onboarding?”
Lebih jelas: “Seberapa puas Anda dengan proses pendaftaran dan panduan awal saat pertama kali menggunakan aplikasi?”
Panduan penulisan pertanyaan dari lembaga riset menekankan pentingnya kejelasan dan meminimalkan kebutuhan responden untuk membaca ulang.
Salah: “Seberapa puas Anda dengan harga dan kualitas produk kami?”
Kalau puas kualitas tapi tidak puas harga, responden bingung.
Benar: pisahkan jadi dua pertanyaan.
Menggiring: “Seberapa setuju Anda bahwa layanan kami sangat cepat?”
Netral: “Bagaimana penilaian Anda terhadap kecepatan layanan kami?”
Panduan seperti Pew juga menyorot pentingnya penulisan dan penataan pertanyaan untuk mengurangi bias dan efek urutan.
Setiap tipe pertanyaan punya fungsi:
Pilihan ganda (single choice): untuk memilih satu opsi paling tepat
Kotak centang (multiple choice): untuk memilih beberapa opsi
Skala (Likert/rating): untuk mengukur tingkat kepuasan, persetujuan, intensitas
Isian singkat: untuk data spesifik (mis. nama kota)
Pertanyaan terbuka: untuk insight kualitatif (tapi jangan kebanyakan)
Untuk skala berurutan (mis. “Sangat puas” → “Tidak puas”), banyak pedoman menyarankan tidak sembarang mengacak urutan karena urutan skala sendiri membantu pemahaman responden.
Contoh skala yang rapi (5 poin):
Sangat puas
Puas
Netral
Tidak puas
Sangat tidak puas
Tip: kalau kamu pakai skala 1–10, jelaskan artinya (mis. 1 = sangat buruk, 10 = sangat baik) agar konsisten.
Survei yang kepanjangan bikin orang asal isi atau berhenti di tengah. Dalam praktik desain survei, ada istilah “satisficing” ketika responden menjawab seadanya karena lelah atau tidak tertarik—hasilnya jadi noise.
Patokan cepat:
Survei cepat: 1–3 menit (ideal untuk publik)
Survei sedang: 4–7 menit (cukup aman untuk komunitas/pelanggan yang engaged)
Di atas itu: pastikan ada insentif atau urgensi yang jelas
Pretest itu seperti “tes rasa” sebelum jualan. Banyak panduan metodologi menyebut pretesting/pilot sebagai langkah penting untuk melihat apakah responden memahami pertanyaan seperti yang kita maksud.
Cara pretest yang simpel:
Kirim ke 5–10 orang yang mirip target responden
Tanyakan: “Ada pertanyaan yang membingungkan?” “Ada opsi jawaban yang kurang?”
Perhatikan waktu pengisian (jangan cuma feeling)
Biasanya dari pretest, kamu akan menemukan:
pertanyaan yang ambigu,
opsi jawaban kurang lengkap,
urutan yang bikin responden salah paham.
Mayoritas orang mengisi survei lewat ponsel. Jadi:
Hindari paragraf panjang dalam satu pertanyaan
Kurangi tabel/matrix yang lebar (sering bikin pusing di HP)
Gunakan progress indicator seperlunya (kalau survei cukup panjang)
Banyak checklist platform survei menekankan aspek kenyamanan, durasi, dan kompatibilitas perangkat untuk meningkatkan kualitas respons.
Bukan cuma isi surveinya—cara kamu mengundang orang juga berpengaruh.
Template ajakan yang efektif (contoh):
Jelaskan tujuan singkat: “Untuk meningkatkan layanan pengiriman…”
Jujur soal durasi: “Cuma 2–3 menit”
Jelaskan manfaat: “Masukan Anda menentukan prioritas perbaikan”
Beri tenggat: “Sampai Jumat, 1 Maret”
(Opsional) insentif: voucher/undian/akses fitur
Pendekatan yang memperhatikan pengalaman responden dan komunikasi yang relevan adalah salah satu prinsip yang sering dibahas dalam praktik survei modern.
Setelah data masuk:
Bersihkan data: duplikat, jawaban kosong, jawaban tidak wajar
Lihat ringkasan: rata-rata skor, distribusi jawaban, top 3 keluhan
Segmentasi: bandingkan berdasarkan kelompok penting (mis. pengguna baru vs lama)
Gabungkan dengan jawaban terbuka: cari tema yang paling sering muncul
Kalau kamu punya pertanyaan terbuka, jangan tenggelam di ratusan jawaban—mulai dari kategorisasi tema (mis. “harga”, “fitur”, “bug”, “customer service”).
Judul: Survei Kepuasan Pengguna Aplikasi
Estimasi waktu: 3 menit
Seberapa sering Anda menggunakan aplikasi ini?
Setiap hari / 2–3x seminggu / 1x seminggu / Jarang
Seberapa puas Anda secara keseluruhan? (Skala 1–5)
Bagian mana yang paling membantu Anda? (Pilih maksimal 2)
Fitur A / Fitur B / Fitur C / Lainnya
Apa kendala terbesar yang Anda rasakan? (Pilih maksimal 2)
Sulit digunakan / Lambat / Fitur kurang / Harga / Lainnya
Jika bisa memperbaiki satu hal saja, apa itu? (Jawaban terbuka)
Profil singkat (opsional)
Rentang usia, domisili, dll.
Kalau kamu bisa checklist ini, surveimu biasanya sudah aman:
Tujuan survei jelas dan bisa mengarah ke keputusan
Pertanyaan singkat, jelas, tidak menggiring
Tidak ada pertanyaan ganda (2 hal dalam 1 pertanyaan)
Skala konsisten dan mudah dipahami
Durasi pengisian masuk akal
Sudah pretest minimal 5 orang
Mobile-friendly
Kalau kamu ingin proses survei yang lebih rapi—mulai dari membuat pertanyaan, menyebarkan link, sampai mengumpulkan hasil—kamu bisa coba aplikasi Surveiku.
Di Surveiku, kamu bisa menyusun survei lebih cepat, tampilannya enak di HP, dan kamu bisa fokus ke hal yang paling penting: mengubah jawaban responden jadi keputusan yang lebih tepat.
Kalau kamu suka tips seperti ini, yuk berlangganan Surveiku supaya kamu bisa bikin survei yang konsisten, profesional, dan mudah dikelola dari satu tempat.
Developer
Author