Cara Bikin Skala Likert yang Benar - Surveiku

Cara Bikin Skala Likert yang Benar

Views: 18
Featured

Cara Bikin Skala Likert yang Benar (Panduan Praktis + Contoh)

Skala Likert itu salah satu format pertanyaan survei yang paling sering dipakai—tapi juga yang paling sering “salah pakai”. Ada yang bikin skalanya tidak seimbang, labelnya ambigu, atau malah mencampur beberapa jenis skala dalam satu halaman. Akibatnya, responden bingung, jawaban jadi asal pilih, dan data sulit dianalisis.

Di artikel ini, kita bahas cara bikin skala Likert yang benar—mulai dari memilih jumlah poin, menulis label, sampai contoh template yang tinggal kamu copas.

Apa itu skala Likert?

Secara sederhana, skala Likert adalah skala untuk mengukur tingkat persetujuan/ketidaksetujuan (atau penilaian sejenis) terhadap sebuah pernyataan—misalnya “Saya puas dengan layanan…” lalu responden memilih dari “Sangat tidak setuju” sampai “Sangat setuju”.

Catatan penting: yang sering disebut “Likert” di lapangan kadang sebenarnya rating scale umum (mis. 1–10). Tidak salah, tapi sebutan dan desainnya berbeda. Kalau kamu mau aman, pakai desain Likert yang rapi dan konsisten.

Kapan sebaiknya pakai skala Likert?

Gunakan skala Likert ketika kamu ingin mengukur:

  • Sikap/opini (setuju–tidak setuju)

  • Persepsi kualitas (baik–buruk)

  • Kepuasan (sangat puas–sangat tidak puas)

  • Frekuensi (tidak pernah–selalu)

  • Tingkat kemudahan (sangat sulit–sangat mudah)

Kalau pertanyaanmu butuh jawaban fakta (mis. “Berapa kali…?”) atau pilihan spesifik (“Pilih fitur favorit”), Likert bukan pilihan utama.

10 Prinsip Skala Likert yang Benar

1) Mulai dari tujuan dan “apa yang mau diukur”

Sebelum menentukan jumlah poin, pastikan kamu jelas dulu:
yang kamu ukur itu sikap, kepuasan, frekuensi, atau kualitas?

Contoh:

  • Mengukur kepuasan → gunakan “Sangat tidak puas” s/d “Sangat puas”

  • Mengukur persetujuan → gunakan “Sangat tidak setuju” s/d “Sangat setuju”

  • Mengukur frekuensi → gunakan “Tidak pernah” s/d “Selalu”

Jangan campur aduk “setuju” untuk hal yang sebenarnya “frekuensi”. Itu bikin interpretasi data jadi rancu.

2) Tulis pernyataan yang spesifik dan satu makna

Skala Likert biasanya berbentuk pernyataan, bukan pertanyaan panjang.

Kurang rapi:
“Seberapa setuju Anda bahwa aplikasi kami bagus, cepat, dan mudah digunakan?”

Itu 3 hal dalam 1 kalimat (kualitas, kecepatan, kemudahan). Pisahkan.

Lebih rapi (jadi 3 item):

  1. “Aplikasi ini mudah digunakan.”

  2. “Aplikasi ini berjalan cepat.”

  3. “Tampilan aplikasi ini enak dilihat.”

Prinsip umum penulisan pertanyaan survei: hindari kalimat ambigu, bias, dan “double-barreled” agar jawaban benar-benar mengukur hal yang dimaksud.

3) Pilih jumlah poin: 5 atau 7 biasanya paling aman

Yang paling sering dipakai:

  • 5 poin: simpel, cepat diisi, cocok untuk survei umum

  • 7 poin: lebih sensitif (lebih detail), cocok kalau respondennya nyaman mengisi survei

Yang penting: konsisten. Jangan sebagian pertanyaan 5 poin, sebagian 7 poin, kecuali ada alasan metodologis yang jelas.

Banyak panduan praktis menyarankan memilih jumlah poin yang seimbang antara detail dan “capek isi”.

4) Tentukan midpoint: perlu “Netral” atau tidak?

Midpoint (opsi tengah) contohnya: Netral / Biasa saja / Tidak yakin.

Kapan midpoint berguna:

  • Saat “netral” memang jawaban yang masuk akal (mis. opini terhadap kebijakan tertentu)

  • Saat responden mungkin benar-benar tidak punya preferensi

Kapan midpoint justru mengganggu:

  • Saat kamu butuh keputusan tegas (mis. evaluasi kepuasan layanan) dan “netral” jadi tempat “asal aman”

Literatur desain survei membahas bahwa midpoint bisa dipakai untuk menampung responden yang benar-benar tidak punya opini—atau justru jadi “jalan keluar” bagi responden yang malas berpikir, jadi gunakan dengan sadar.

Tips praktis yang sering aman:

  • Tetap pakai midpoint (5 poin) dan sediakan opsi terpisah “Tidak tahu / Tidak relevan” bila diperlukan (ini beda dengan “Netral”).

5) Skala harus seimbang (balanced)

Skala seimbang artinya:

  • Jumlah opsi positif = jumlah opsi negatif

  • Intensitasnya simetris

Contoh 5 poin yang seimbang:

  • Sangat tidak setuju

  • Tidak setuju

  • Netral

  • Setuju

  • Sangat setuju

Contoh yang tidak seimbang (hindari):

  • Tidak setuju

  • Netral

  • Setuju

  • Sangat setuju

  • Setuju banget

Ini tidak simetris dan bisa mendorong bias.

6) Gunakan label yang jelas (jangan cuma angka)

Kesalahan umum: bikin skala 1–5 tanpa arti, lalu berharap responden paham sendiri.

Lebih aman:

  • Beri label kata yang jelas (“Sangat tidak setuju” dst.)

  • Kalau pakai angka, angka hanya pendamping, bukan satu-satunya penanda

Panduan desain pertanyaan menekankan bahwa angka saja sering ambigu, sehingga memberi label verbal membantu responden memahami maksud skala.

7) Label semua titik atau cukup ujungnya?

Ini pertanyaan klasik. Ada yang hanya melabeli ujung kiri-kanan, ada yang melabeli semua poin.

Praktik yang sering paling aman (terutama untuk audiens umum):

  • Label semua poin supaya interpretasi responden lebih konsisten

Ada pembahasan khusus soal dampak pelabelan semua poin vs hanya endpoint, dan ini memang keputusan desain yang penting.

Kalau kamu targetnya beragam (multi-usia, multi-latar), melabeli semua poin biasanya mengurangi salah tafsir.

8) Jaga arah skala tetap konsisten di seluruh survei

Misalnya:

  • Kiri = negatif, kanan = positif (atau sebaliknya), tapi jangan bolak-balik.

Kalau satu halaman “Sangat setuju” di kiri, lalu halaman berikutnya “Sangat setuju” di kanan, responden gampang kepleset.

9) Hindari kata-kata absolut dan menggiring

Hindari kalimat seperti:

  • “Aplikasi ini selalu membantu saya…”

  • “Layanan kami sangat cepat…”

Lebih netral:

  • “Aplikasi ini membantu saya menyelesaikan tugas lebih cepat.”

  • “Kecepatan layanan sesuai kebutuhan saya.”

Panduan penulisan pertanyaan survei menekankan pentingnya wording yang netral agar tidak membentuk jawaban responden.

10) Uji coba (pilot test) sebelum disebar luas

Sebelum survei dibagikan ke ratusan orang, uji ke 5–10 orang dulu:

  • Apakah ada label yang membingungkan?

  • Apakah ada pernyataan yang ditafsir beda?

  • Berapa menit rata-rata mengisi?

Best practice desain survei umumnya menyarankan uji coba agar instrumen lebih valid dan mudah dipahami.

Template Skala Likert Siap Pakai

A) Likert 5 poin (setuju–tidak setuju)

Pernyataan: “Saya merasa fitur X mudah digunakan.”
Opsi:

  1. Sangat tidak setuju

  2. Tidak setuju

  3. Netral

  4. Setuju

  5. Sangat setuju

B) Likert 7 poin (lebih detail)

  1. Sangat tidak setuju

  2. Tidak setuju

  3. Agak tidak setuju

  4. Netral

  5. Agak setuju

  6. Setuju

  7. Sangat setuju

C) Skala kepuasan (5 poin)

  1. Sangat tidak puas

  2. Tidak puas

  3. Biasa saja

  4. Puas

  5. Sangat puas

D) Skala frekuensi (5 poin)

  1. Tidak pernah

  2. Jarang

  3. Kadang-kadang

  4. Sering

  5. Selalu

Tips: jangan campur “Setuju” dengan “Sering” dalam satu dimensi. Itu beda konsep.

Contoh “Buruk vs Bagus” (biar kebayang)

Buruk:

“Seberapa setuju Anda bahwa aplikasi kami sangat cepat dan sangat membantu?”

Masalahnya: menggiring (“sangat”), 2 konsep dalam satu item (cepat + membantu).

Bagus:

  1. “Aplikasi ini berjalan cepat saat saya gunakan.”

  2. “Aplikasi ini membantu saya menyelesaikan pekerjaan saya.”

Lalu pakai Likert 5 poin yang konsisten.

Kesalahan paling umum saat membuat skala Likert

  • Skala tidak seimbang (opsi positif lebih banyak)

  • Label tidak jelas (cuma angka)

  • Arah skala bolak-balik

  • Pernyataan terlalu panjang / mengandung 2 ide

  • Midpoint dipakai tanpa sadar (padahal butuh “Tidak relevan”)

  • Campur 5 poin dan 7 poin tanpa alasan

Tips analisis sederhana (biar hasilnya kepakai)

Untuk laporan cepat, kamu bisa:

  • Hitung persentase Top-2 box (mis. “Setuju + Sangat setuju”)

  • Lihat distribusi jawaban per item

  • Bandingkan per segmen (pengguna baru vs lama)

Soal teknis statistik, item Likert umumnya dipandang ordinal, dan cara memperlakukannya saat analisis perlu konsisten dengan tujuan pelaporan. Pembahasan tentang sifat data Likert (ordinal vs interval) juga sering muncul di materi desain survei.

FAQ singkat

1) Skala Likert terbaik 5 atau 7?
Umumnya 5 poin cocok untuk survei umum (lebih cepat), 7 poin cocok untuk riset yang butuh sensitivitas lebih tinggi, tapi tetap jaga responden tidak kelelahan.

2) Perlu “Netral” atau tidak?
Kalau “netral” masuk akal sebagai sikap, pakai. Kalau kamu butuh keputusan tegas, pertimbangkan skala genap atau tambah opsi “Tidak relevan”.

3) Lebih baik label semua poin atau cukup ujung?
Untuk audiens umum, melabeli semua poin sering lebih aman agar interpretasi konsisten.

Penutup: bikin skala Likert rapi tanpa ribet dengan Surveiku

Membuat skala Likert yang benar itu bukan soal “keren-kerenan metodologi”, tapi soal mengurangi salah tafsir supaya datamu benar-benar bisa dipakai. Kalau kamu sering bikin survei untuk riset, evaluasi layanan, atau kebutuhan kerja/komunitas, prosesnya akan jauh lebih nyaman kalau kamu pakai alat yang memang dirancang untuk itu.

 

Kalau kamu mau bikin survei lebih cepat, rapi, dan konsisten—mulai dari template skala Likert sampai pengumpulan hasil—kamu bisa berlangganan aplikasi Surveiku. Dengan Surveiku, kamu tinggal fokus menyusun pertanyaan yang tepat dan membaca insight-nya, tanpa pusing urusan teknis.